Daftar Tetamu Kehormat

Friday, November 5, 2010

There is NO GOD!!!



An atheist professor of philosophy speaks to his class on the problem science has with God, The Almighty. He asks one of his new Muslim students to stand and…..

Professor: You are a Muslim, aren’t you, son?

Student : Yes, sir.

Prof: So you believe in God?

Student : Absolutely, sir.

Prof: Is God good?

Student : Sure.

Prof: Is God all-powerful?

Student : Yes.

Prof: My brother died of cancer even though he prayed to God to heal him. Most of us would attempt to help others who are ill. But God didn’t. How is this God good then? Hmm?

(Student is silent.)

Prof: You can’t answer, can you? Let’s start again, young fella. Is God good?

Student :Yes.

Prof: Is Satan good?

Student : No.

Prof: Where does Satan come from?

Student : From…God…

Prof: That’s right. Tell me son, is there evil in this world?

Student : Yes.

Prof: Evil is everywhere, isn’t it? And God did make everything. Correct?

Student : Yes.

Prof: So who created evil?

(Student does not answer.)

Prof: Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?

Student :Yes, sir.

Prof: So, who created them?

(Student has no answer.)

Prof: Science says you have 5 senses you use to identify and observe the world around you. Tell me, son…Have you ever seen God?

Student: No, sir.

Prof: Tell us if you have ever heard your God?

Student : No , sir.

Prof: Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God? Have you ever had any sensory perception of God for that matter?

Student : No, sir. I’m afraid I haven’t.

Prof: Yet you still believe in Him?

Student : Yes.

Prof: According to empirical, testable, demonstrable protocol, science says your GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?

Student : Nothing. I only have my faith.

Prof: Yes. Faith. And that is the problem science has.

Student : Professor, is there such a thing as heat?

Prof: Yes.

Student : And is there such a thing as cold?

Prof: Yes.

Student : No sir. There isn’t. (The lecture theatre becomes very quiet with this turn of events.)

Student : Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold. We can hit 458 degrees below zero which is no heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as cold. Cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.

(There is pin-drop silence in the lecture theatre.)

Student : What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?

Prof: Yes. What is night if there isn’t darkness?

Student : You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light….But if you have no light constantly, you have nothing and it’s called darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it were you would be able to make darkness darker, wouldn’t you?
Prof: So what is the point you are making, young man?

Student : Sir, my point is your philosophical premise is flawed.

Prof: Flawed? Can you explain how?

Student : Sir, you are working on the premise of duality. You argue there is life and then there is death, a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life: just the absence of it. Now tell me, Professor. Do you teach your students that they evolved from a monkey?

Prof: If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.

Student : Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?(The Professor shakes his head with a smile, beginning to realize where theargument is going.)

Student : Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavour, are you not teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a preacher?

(The class is in uproar.)

Student : Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain? (The class breaks out into laughter.)

Student : Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain, felt it, touched or smelt it?….No one appears to have done so. So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science says that you have no brain, sir. With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?(The room is silent. The professor stares at the student, his face unfathomable.)

Prof: I guess you’ll have to take them on faith, son.

Student : That is it sir.. The link between man & god is FAITH. That is all that keeps things moving & alive


source :
a special thanks dedicated to,
STARS for this splendid article...
you can check her blog at:
extraordinarydesign.wordpress.com


p.s: so... u like this article? like rite (^_^) Allahuakbar!!!!!

Perkongsian : Dia budak agama, dia pergi usrah, dia pakai tudung labuh…




Ada seorang hamba Allah perempuan ini. Dia adalah seorang bekar pelajar di sekolah agama. Dia seorang yang solehah, menjaga auratnya dan memakai tudung labuh. Dia juga rajin mengikuti usrah.
Ditakdirkan Allah, dia dihantar belajar ke luar negara. Negara yang dia pergi, bukan pula negara orang Islam. Jurusannya bukan jurusan agama, tetapi Perubatan. Maka, dia diangkat menjadi orang yang dipercayai oleh pelajar yang seangkatan dengannya.

Awal-awal, dia seorang yang komited dengan agama. Sering mengajak kawan-kawannya agar mengingati Allah, melaksanakan amanah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya.

Satu hari, dia jatuh cinta dengan seorang lelaki yang bukan Islam. Lama kelamaan, dia meninggalkan peribadinya yang lama. Walaupun masih bertudung labuh, dia tidak lagi menjaga batas pergaulan. Sampai satu tahap, dia pernah tidur di dalam kereta berdua-duaan dengan lelaki tadi.

Apakah pandangan anda?

Apa yang anda akan lakukan bila mengetahui perkara ini, bila melihat perkara ini, atau bila menjadi salah seorang daripada kawan-kawan kepada pelaku perkara ini?

Kisah rekaan saya, tetapi situasinya merata-rata

Saya reka cerita itu. Ini bermakna, saya tidak pernah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Tetapi situasi yang sinonim seperti cerita saya di atas berlaku di banyak tempat. Tidak perlu tanya saya dari mana saya tahu, tetapi saya sekadar hendak anda menjawab, betul atau tidak.

Betul kan?

Budak sekolah agama, lelaki ke, perempuan ke, dulu baik, tiba-tiba terjebak dengan sesuatu di luar lunas agama Allah. Perempuan tudung labuh, dulu jaga hubungan lelaki perempuan, tiba-tiba bercouple. Rakan kita yang nampak alim, tiba-tiba terdengar khabar dia berzina.

Ya, apa yang kita lakukan pada mereka-mereka ini?

Biasanya, mereka dihina. Disisihkan.

“Cis, menyampah gila aku. Dulu baik bukan main. Sekarang, mengalahkan aku buruknya. Aku pun tak pernah berdating dengan perempuan tau”

“Aku tak sangka betul, dulu bukan main solehah. Ingatkan aku itu ini. Sekarang tup-tup keluar dengan mamat tu. Tak senonoh la. Hipokrit”

“Tengoklah budak sekolah agama tu. Kata je belajar agama. Dulu bukan main lagi ceramah bagi dalil-dalil Al-Quran ingatkan orang. Sekarang, entah syurga dengan neraka pun tak kenal ke hapa”

Dan 1001 macam lagi yang biasanya akan terlepas dari mulut kita. Atau paling tidak, terdetik di dalam hati.
Kenapa? Kenapa kita senang bersikap demikian?

Akhirnya, mereka yang dahulunya ala-ala ustaz ustazah harapan agama ini disisihkan kerana kemaksiatan dan keingkaran yang mereka lakukan di hadapan mata kita har ini. Mereka dikutuk, dihina, dikeji, dihentam-hentam. Dan 99%, semuanya dilakukan di belakang mereka.

Saya suka bertanya.

Siapa yang pernah pergi dan bersembang, berbincang, mendalami kenapa mereka berubah sedemikian rupa?

Tiada siapa menarik mereka

Kita selalu kata begini:
“Alah, pelajar agama, takkan tak tahu”

“Dia kan hafal 30 juzu’ Al-Quran. Takkan la tak reti-reti lagi”

Tetapi pada saya, ini satu prinsip yang membawa kepada sikap kita yang saya nyatakan di atas. Ya, secara tidak langsung, kita seakan-akan meletakkan taraf pelajar agama, orang yang mengikuti usrah, mereka yang bertudung labuh dan berkopiah ini di taraf MALAIKAT.

Sedangkan, mereka adalah MANUSIA.

Bila namanya manusia, pasti ada waktu kesilapannya. Dan kadangkala, silapnya boleh jadi lebih buruk dari kesilapan mereka yang tidak pernah pun sekolah agama. Tetapi inilah dia ujian Allah SWT.

Dengan prinsip kita di atas tadi, maka kita meninggalkannya. Kita tidak menegurnya. Kita nampak dia mula berubah ke arah kejahatan, kita menjauhinya kerana kita kata dia dah tahu, dia mesti dah faham serta sebagainya.

Kesilapan kita, adalah di sini.

Tiada siapa yang bergerak menarik mereka.

Sebagaimana kamu, mereka juga begitu, saya juga begitu

Bila kita melakukan kesilapan, kita senang untuk orang faham kenapa kita boleh tersilap. Kita tertipu ke, kita terjerat ke, kita memang betul-betul tak tahu kemudian terbiasa dengan kesilapan itu ke, dan 1001 sebab lagi.
Jadi, bila orang hentam-hentam kita tanpa memahami, kita pastinya sakit hati.

Begitulah perasaannya mereka yang buat silap. Saya kira, kita sama dalam hal ini. Baik kamu, mereka, mahupun saya.

Saya sendiri, amat benci manusia yang pakai hentam sahaja tanpa memahami. Kenal pun tidak, sudah menghentam macam dia tahu-tahu aja apa sebenarnya yang terjadi.

Jadi, apakah sikap kita?

Pernahkah kita mendekati ‘pendosa-pendosa yang beragama’ ini, atau kita sekadar menghina kesilapan, ketersasaran mereka dari jauh sahaja?

Mereka butuh manusia yang memahami

Kadangkala, ada something yang di luar jangkaan berlaku dalam hidup mereka ini. Sebab itu dari sebaik-baik manusia, boleh berubah sebegitu rupa. Kita yang biasa-biasa ni, melenting la. Kita terlupa bahawa dia rupanya manusia juga.

Tidak ramai yang mampu bersabar. Sedangkan, keadaan ini hanya boleh dihadapi oleh mereka yang tenang dan rasional.

Siapa yang pergi mendekati mereka, memahami mereka, cuba mencungkil apa sebenarnya permasalahan mereka, kenapa mereka sampai boleh tersasar sedemikian rupa. Siapa? Siapa yang berusaha sedemikian rupa?

“Aku tegur dah dia” Ya la, tegur macam mana? Tegur sekali pastu blah? Tegur 10 kali lepas tu penat?
Kadang-kadang, kita terlupa yang kita tak pernah pun bina ‘jambatan hati’ dengan mereka. Kita tak kenal mereka dalam erti kata sebenar. Kita dan dia tak pernah ada apa-apa perkongsian.

Bila terjadi perkara sebegini, kita lebih senang menghentam. Tegur sekali dua, lepas tu kata tak ada harapan. Ajak masuk usrah balik semula dua tiga kali, kemudian kata dia dah tak dapat hidayah.

Ini masalah kita.

Kemudian kita salahkan dia.

Sebenarnya, kita pun sama. Berputus asa mengajak dia ke jalan Allah.

Bila dia berdosa, tak kira la dia budak agama ke, ulama sekalipun, sepatutnya kita layani dia dengan baik. Tunjukkan dia jalan yang betul.

Sejak bila seseorang itu bila dia jadi pelajar sekolah agama, dia ikut usrah, dia pernah berdakwah ajak orang buat baik, dia keluaran Al-Azhar ke hapa ke, bila jadi maksum?

Sejak bila pula, manusia-manusia ni, bila buat dosa, dibolehkan kita membiarkan mereka?

Bukankah layanannya tetap sama dengan orang yang tidak pernah belajar agama, tidak pernah ikut usrah, tidak pernah berdakwah yang buat dosa?

Yakni tegur, dan pimpin mereka.

Pimpin ya. Pimpin. Fahami maksud perkataan pimpin.

Mereka lebih baik. Kami bukan pelajar agama

Satu lagi kesilapan kita, kita suka kata: “Mereka budak agama. Aku bukan budak agama. Mereka pakai tudung labuh. Aku tudung tiga segi aja”

Dan akhirnya, kita tinggalkan mereka.

Ini kesilapan yang paling besar. Siapa la ajar penegur itu kena sempurna. Kita ni, menegur sambil memperbaiki diri. Kita budak agama ke, bukan budak agama ke, kalau sesuatu kita rasa patut tegur, walaupun teguran kita tu ala-ala menghentam diri sendiri, kena tegurlah juga.

Apa barang bai main kutuk-kutuk belakang aja?

“Dia kan budak agama, dia mesti faham”

Kalau macam itu, budak agama mestilah malaikat semuanya. Tak akan ada buat salah.
Ala, macam kita belajar la. Faham-faham pun, bukan dapat 100% dalam periksa. Betulkan?
Ada ke yang skor semua mata pelajaran dia 100%?

Kalau ada pun, sekelompok kecil aja.
So, macam mana sekarang?

Kena tegur la. Bergerak mendekati mereka ini. Fahami masalah mereka ini. Mana tahu, hati mereka meronta-ronta untuk kamu membantu mereka sebenarnya.

Penutup: Kamu berdosa kalau sekadar membiarkan

Ya, kamu berdosa. Sebab mencegah kemungkaran itu adalah wajib.
“Saya mencegah dengan hati” Ha ha.. ini alasan kamu nak bagi kan?
Rasulullah SAW bersabda: “Sekiranya kamu tidak mampu”

Jadi, kalau ada kudrat, ada suara lagi, ada tenaga lagi, itu tandanya ‘mampu’ itu masih ada pada kamu. Maka, kamu berdosa kalau tidak menegurnya. Teknologi hari ini lagi la ada macam-macam. E-mail ada, facebook ada, Yahoo Messenger ada. Kalau nak pakai gaya zaman P.Ramlee pun boleh – tulis surat.

Kemudian, tegur bukan sekali. Berkali-kali. Sampaila terjadi salah satu dari empat perkara. Apa dia?

1. Kamu mati.
2. Dia mati.
3. Matahari terbit dari barat.
4. Dia berubah.

Selagi tak berlaku empat perkara ini, adalah tidak patut kita berputus asa dalam memberikan teguran. Kalau tak makan dengan plan A, kita bagi dia plan B. Kalau plan B dia tak boleh jugak, kita bagi dia plan C. Sampai la plan Z. Kalau tak boleh jugak, kita bagi dia plan AZ pula. Kalau tak boleh lagi, bagi plan BZ dan begitulah seterusnya. Sampai salah satu dari empat perkara tadi terjadi pada kita.

“Tapi dia budak agama” Kamu ulang lagi benda ni.
Sudah-sudah. “Dia manusia juga” itu kata saya.

Ayuh, jangan cakap belakang sahaja.

Rapati dia, berikan nasihat. Laksanakan tanggungjawab kamu sebagai seseorang yang faham bahawa dia telah tersasar daripada Allah SWT.

Sesungguhnya, menebarkan kebaikan itu adalah tanggungjawab orang yang beriman.

Tidak kira, kamu budak sekolah agama, atau bukan.


oleh : Langit Ilahi (Hilal Asyraf)


sumber : Facebook



p.s : Islam itu tidak pandang pada harta, pangkat, keturunan tetapi pada agamanya...selagi kita Islam, selagi itu kene berdakwah...renung2 kan...waallahualam...Ya ALLAH, tetapkan lah iman kami hanya untuk-MU...